24 Januari 2017

Akhir Yang Lebih Awal

Hidup selamanya. Benarkah ada hidup yang tak berakhir?

Kadang saya merasa agak terganggu dengan tingkah beberapa organisasi yang mengaku bahwa mereka mencintai alam. Greenpeace contohnya. Entah mengapa mereka begitu takut apabila alam ini menjadi rusak. Padahal sebagian besar orang pun sudah tau kenyataannya bahwa alam ini, cepat atau lambat pasti akan menua, pasti akan rusak, bahkan pasti akan hancur. Pilihannya hanyalah cepat atau lambat, bahwa alam ini bergerak menuju kehancuran.

Apakah kita akan sepaham dengan para pencinta alam, untuk melestarikan alam ini. Lalu dengan kesepahaman tersebut, kita sebagai kaum manusia, dapat berlama-lama menikmati hidup kita di alam ini? Kalo menurut saya, tidak. Menurut saya, hidup ini adalah hal yang membosankan. Dan kalau hidup ini bisa berakhir dengan lebih awal, kenapa tidak?

Belum lagi ditambah pernyataan dari beragam agama yang menyatakan, bahwa cara hidup kita di dunia ini akan mendatangkan konsekuensi kehidupan setelah kehidupan saat ini di dunia. Kalo tujuannya baik, yakni mengontrol cara hidup kita di dunia ini, it's okay. Tapi kalo caranya dengan menyatakan hal yang menurut saya adalah kebohongan, dan hanya untuk kepentingan fana milik sebagian pihak agar mendapatkan pelayanan yang penuh kedamaian?

Bukannya saya tidak menyukai kedamaian. Tapi menurut saya, baik kedamaian maupun kejahatan, adalah sama saja. Satu hal yang sempat menguatkan pemikiran saya adalah beberapa ayat kutipan dari surat Pengkhotbah milik Alkitab. Yang menyatakan kira-kira bahwa, orang baik maupun orang jahat nasibnya bakal sama. Yaitu kematian. Lantas bagaimana dengan surga dan neraka, yang oleh surat Pengkhotbah, saya rasa tidak pernah dibahas?

Coba direnungkan, apa benar surga dan neraka itu benar-benar ada? Ataukah surga dan neraka, hanyalah akal-akalan yang dimiliki satu pihak yang tadi saya sebut, pihak yang menginginkan pelayanan penuh kedamaian? Kalau memang benar surga dan neraka itu benar adanya, lantas dimana bukti nyatanya?

Bagi saya, kematian serta hancurnya alam, bukanlah dua hal yang perlu ditakuti. Bahkan bencana sekalipun menurut saya hanyalah sebuah perspektif milik manusia. Sedangkan hidup ini menurut saya adalah justru sebuah hal yang menjemukan. Bagi anda yang ingin menjalani hidup kekal di alam ini, saya persilakan. Tapi ingatlah, alam pun kian menua. Dan bagi saya, akhir yang datang lebih awal adalah lebih baik.

16 April 2015

Kenapa Kita (Masih) Di Sini?

Kenapa kita di sini? Mungkin karena kehendak Tuhan, mungkin juga karena kecelakaan. Posting ini adalah tentang kemungkinan.

Kalo menurut teori abiogenesis bisa kita ketahui, yakni tentang bagaimana kehidupan bisa muncul dari materi anorganik alias benda mati. Rinciannya ada di id.wikipedia.org/wiki/Abiogenesis. Sederhananya mahkluk hidup bisa muncul dari lingkungan mati, asalkan kondisi lingkungan tersebut memungkinkan untuk menyokong mahkluk hidup tersebut. Abiogenesis lebih cenderung dikaitkan pada masa muda planet bumi.

Dari teori yang katanya sudah dibuktikan kebenarannya di atas, aku bisa menarik sebuah kesimpulan. Yaitu bahwa kehidupan yang ada di bumi ini, tak lebih dari kecelakaan semata. Lalu di mana Tuhan?

Tuhan itu ada. Tapi aku ga tau dia sembunyi di mana, atau berwujud apa. Yang aku tau, mungkin, Tuhan lah yang telah mendesain tiap bentuk kehidupan di muka bumi ini. Mungkin Dia datang ke bumi ini, karena tau bahwa kecelakaan tersebut di atas, telah memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai tempat tinggal ciptaanNya.

Aku nggak tau apakah Dia masih ada di sini ataukah dia sudah pergi ke tempat "kecelakaan indah" lainnya. Tapi yang jelas karya ciptaanNya masih ada di sini, yaitu untuk mengisi dunia ini. Sungguh Tuhan adalah Maha Desainer. Dan perlu kita ingat bahwa manusia pun punya kemampuan yang mirip dimiliki oleh Tuhan Sang Maha Desainer, yaitu rekayasa genetika.

Kenapa kita disini? Atau kenapa kita masih disini? Semata-mata itu karena kasihNya, yang telah memberi alasan mengapa kita masih di sini. Kita bisa bertahan sampai sekarang, itu tidak lebih karena anugrahNya yang penuh dengan kasih dan sukacita, serta banyak hal lainnya. Ingat, tanpa Tuhan, kita ini tidak lebih dari sebuah kecelakaan.

Ya, "kecelakaan yang indah".

3 April 2013

Unexpected Visit: Bajul Mati & Gua Cina

Visit kali ini ke dua pantai sekaligus. Pertama ke pantai Ungapan Bajul Mati yang berlokasi di kecamatan Gedangan. Dan yang kedua ke pantai Gua Cina yang berada di kecamatan Sumbermanjing Wetan. Lokasi keduanya cukup berdekatan, dan sama sama berada di kabupaten Malang (alias Malang Selatan). Selain itu dua pantai ini juga cukup dekat dengan pantai Sendangbiru.

Berada di Malang Selatan

Lokasi dua pantai

Pantai Ungapan Bajul Mati tidak seramai pantai Gua Cina. Tapi pantai Ungapan Bajul Mati memiliki pemandangan yang tidak kalah indah dengan pantai Gua Cina.
Ombak di pantai Ungapan Bajul Mati cukup menakutkan. Bahkan sampai ada larangan untuk mandi atau berenang di laut.

Papa at Pantai Ungapan Bajul Mati

Pantai Ungapan Bajul Mati

Setelah melihat-lihat pemandangan di pantai Ungapan Bajul Mati, selanjutnya kita langsung mampir ke pantai Gua Cina. Satu kekurangan dari perjalanan ke pantai Gua Cina adalah jalan aksesnya. Jalan masuk-keluar pantai pada saat visit tersebut masih belum diaspal. Jadinya ya kurang mulus gitu deh.

Jalan yang tidak rata

Tapi nevermind. Itu setara dengan pemandangan yang kami lihat di pantai Gua Cina. Pantai tersebut juga memiliki ombak yang cukup deras, mungkin karena berhadapan langsung dengan samudera Hindia. Selain itu di seberang pantai terdapat pulau pulau karang yang menyejukkan mata. That's really so Great.. =)



Sebenarnya antara ketiga pantai Ungapan Bajul Mati, Gua Cina, dan Sendangbiru dihubungkan oleh jalan lintas selatan. Jalan lintas selatan yaitu jalan lintas dari pantai Balekambang ke pantai Sendangbiru. Akan tetapi jalan tersebut belum seratus persen selesai.

Jalan lintas selatan

Oke deh, sekian dulu pos tentang visit kali ini. Bye.. =D

19 Maret 2013

Unexpected Visit: Sendangbiru

Pantai Sendangbiru selain sebagai tempat wisata, juga merupakan tempat berlabuhnya kapal-kapal nelayan. Di sana juga ada TPI, Tempat Pelelangan Ikan.


Lokasinya di kabupaten Malang, kecamatan Sumbermanjing Wetan. Di seberang pantai Sendangbiru, terdapat pulau Sempu. Pulau Sempu terkenal dengan Segara Anakan-nya.

Lokasi sering disebut Malang Selatan
Lokasi Sendangbiru

Warna air lautnya berubah-ubah antara hijau gelap sampai hijau terang. Mungkin tergantung dari sinar matahari. Sebenarnya sebelumnya tidak ada rencana ingin pergi ke pantai Sendangbiru. Namun saat berjalan-jalan di sekitar kota Malang, kemudian melihat papan arah menuju Sendangbiru. Muncullah ide untuk pergi ke sana.

Saat tiba di pantai, kami (aku dan Papa) menyewa jasa arung laut dengan menggunakan Perahu motor. Lumayan, dengan seratus ribu rupiah bisa lihat dan rasakan pemandangan indah di sekitar pantai Sendangbiru. :)

Airnya biru kehijauan
Perahu yang digerakkan motor
Nice view from boat

Dari perahu bisa kelihatan sisi utara dari pulau Sempu. Kelihatan juga beberapa turis yang baru selesai melancong di pulau Sempu.

Kapal dan tourists di Pulau Sempu
Pulau Sempu

Terima kasih buat Papa yang mau menuruti keinginanku untuk berjalan-jalan. (Kali ini ke pantai Sendangbiru) XD

PAPA

Dan juga mobil Charade Daihatsu yang telah berjasa, dalam perjalanan pulang pergi. Kota Malang-pantai Sendangbiru. Sekian.


15 Maret 2013

Dunia dan Aku

Mungkin cuma buah pikiran orang egois. Tapi sebenarnya ada dua pilihan besar tentang PENCIPTAAN yang ada di otakku ini. Tentang mana dulu yang diciptakan di dunia ini. Mungkin seperti pertanyaan mana dulu yang ada, ayam atau telor?
Sedangkan yang menjadi pilihan tentang PENCIPTAAN, mana dulu yang DICIPTAKAN? AKU atau DUNIA?

Kenapa aku berpikir seperti itu? Karena AKU telah berada di DUNIA. Karena aku HIDUP.

Mungkin dengan keegoisan atau keakuanku yang teramat sangat, dengan mudah aku mengatakan bahwa AKU lah yang pertama kali diciptakan. LOGIS. Karena kalau AKU tidak tercipta, tidak mungkin pada saat ini aku bisa menceritakan hitam putih, tawa tangis, manis pahit, dan sisi sisi ganda lainnya yang dimiliki oleh DUNIA ini.

Sekali lagi LOGIS namun egois.


Di satu sisi jika memang AKU yang tercipta pertama kali, itu berarti bahwa DUNIA ini tidak lebih dari kombinasi sensasi yang dirasakan indera-inderaku. Sedangkan di sisi lain jika DUNIA lah yang tercipta dan menjadi yang terutama. Itu berarti AKU lah sosok yang dianggap tidak berharga, tidak penting, atau apalah sebutannya.

Secara LOGIS serta dari dua sisi yang berbeda tersebut di atas, tampaknya AKU dan DUNIA punya suatu KAITAN. Sekali lagi ini berdasarkan buah pikiran orang egois.
Di satu sisi mungkin, DUNIA butuh AKU. Di sisi lain juga mungkin, AKU yang butuh DUNIA. Mana yang benar? Semua bisa benar - semua bisa salah. Semua layak DISYUKURI. Semua dampaknya juga patut DITERIMA. Semua hanya masalah persepsi atau perspektif.

Jika ingin bukti, maka hanya WAKTU yang bisa menjawab.